Menurut Robbins dan
Judge (2008: 256), bahwa “Ide untuk memandang organisasi sebagai kultur - dimana
terdapat sebuah sistem makna yang dimiliki bersama oleh para anggotanya - merupakan
sebuah fenomena yang relatif baru”.
Sedangkan menurut Laudon
dan Laudon (2012: 100):
“Seluruh organisasi
memiliki asumsi dasar, yang tak dapat dibantah, dan tidak dapat dipertanyakan
(oleh anggotanya) yang menjelaskan tujuan dan produk organisasi tersebut.
Budaya organisasi meliputi seperangkat asumsi ini mengenai produk apa yang
harus diproduksi organisasi, bagaimana organisasi memproduksinya, dimana dan
untuk siapa”.
Dengan demikian,
sebuah organisasi yang telah mempunyai sistem makna yang dimiliki bersama oleh
para anggotanya, mempunyai asumsi dasar yang menjelaskan tujuan organisasi
tersebut, dapat dikatakan bahwa organisasi tersebut telah memiliki budaya
organisasi. Budaya organisasi terdiri
dari 2 kata yaitu budaya dan organisasi.
Menurut Rivai dan Mulyadi
(2012: 373), bahwa:
“Pengertian budaya
menurut definisi, budaya itu sukar dipahami, tidak berwujud, implisit dan dianggap
sudah semestinya atau baku. Definisi lain menyebutkan budaya adalah sejumlah
pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan yang dimiliki
bersama oleh anggota organisasi.”
Menurut Laudon dan Laudon (2012: 97), bahwa “Organisasi
adalah struktur formal yang stabil dan formal yang mengambil sumber daya dari
lingkungan dan memprosesnya untuk menciptakan output”.
Dari penggabungan 2
kata yaitu budaya dan organisasi, maka menjadi budaya organisasi yang memiliki
definisi atau arti tersendiri. Menurut
Robbins dan Judge (2008: 256), bahwa “Kultur organisasi (organizational culture) mengacu pada sebuah sistem makna bersama
yang dianut oleh para anggota yang membedakan organisasi tersebut dengan
organisasi lainnya”.
Menurut Rivai dan Mulyadi (2012: 374),
menyatakan bahwa “Budaya organisasi adalah suatu kerangka kerja yang menjadi
pedoman tingkah laku sehari-hari dan membuat keputusan untuk karyawan dan
mengarahkan tindakan mereka untuk mencapai tujuan organisasi”.
Menurut Laudon dan
Laudon (2012: 100), bahwa “Budaya organisasi adalah kekuatan pengikat yang kuat
yang menghambat konflik politik dan mendorong pemahaman yang sama, perjanjian
pada prosedur, dan praktik umum”.
Menurut Tintami et al. (2012: 3), bahwa:
“Budaya
organisasi adalah filosofi dasar organisasi yang memuat keyakinan, norma-norma,
dan nilai-nilai bersama yang menjadi karekteristik inti tentang bagaimana
melakukan sesuatu dalam organisasi. Keyakinan, norma-norma, dan nilai-nilai
tersebut menjadi pegangan semua sumber daya manusia dalam organisasi dalam
melaksanakan kinerjanya (Wibowo, 2011:19).”
Lunenburg (2011: 1), “Organizational culture is the set of shared
values, beliefs, and norms that influence the way employees think, feel, and
behave in the workplace (Schein, 2011)”.
Dari beberapa pendapat
tersebut diatas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa “budaya organisasi
adalah suatu nilai-nilai yang diyakini (belief)
dan merupakan sistem dalam suatu organisasi yang mendukung dalam pelaksanaan
kegiatan dalam berorganisasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu untuk mencapai
tujuan yang telah disepakati bersama”.
2.1.1
Fungsi
Budaya Organisasi
Keberadaan budaya organisasi dalam suatu
perusahaan atau organisasi tidak hanya sekedar slogan saja namun mempunyai
fungsi dan manfaatnya. Banyak perusahaan membuat atau mendisain budaya
organisasi dengan mengeluarkan uang miliaran rupiah. Tujuannya agar organisasi
tersebut memiliki budaya organisasi yang kuat sehingga dapat menjadi landasan
dalam mencapai tujuan organisasi.
Menurut Robbins dan Judge (2008: 262), bahwa:
“Kultur
memiliki sejumlah fungsi dalam sebuah organisasi, yaitu:
1.
Penentu batas-batas, artinya budaya menciptakan
perbedaan atau distingsi antara satu
organisasi dengan organisasi lainnya.
2.
Memuat rasa identitas anggota organisasi.
3.
Memfasilitasi lahirnya komitmen terhadap
sesuatu yang lebih besar dari pada kepentingan individu.
4.
Meningkatkan kestabilitas sistem sosial, kultur
adalah perekat sosial yang membantu menyatukan organisasi dengan cara
menyediakan standar mengenai apa yang sebaiknya
dikatakan dan dilakukan oleh karyawan.
5.
Kultur mendefinisikan aturan main:
Dalam definisinya, bersifat samar, tanmaujud, implisit, dan begitu
adanya. Tetapi, setiap organisasi mengembangkan sekumpulan inti yang berisi
asumsi, pemahaman, dan aturan-aturan implisit yang mengatur perilaku
sehari-hari ditempat kerja .... Hingga para pendatang baru mempelajari aturan,
mereka tidak diterima sebagai anggota penuh organisasi. Pelanggaran aturan oleh
pihak eksekutif tinggi atau karyawan lini depan membuat publik luas tidak
senang dan memberi mereka hukuman yang berat. Ketaatan pada aturan menjadi basis
utama bagi pemberian imbalan dan mobilitas ke atas.”
2.1.2
Dampak
Budaya Organisasi
Menurut Rivai dan Mulyadi (2012: 375), bahwa:
“Budaya mempunyai dampak yang kuat dan semakin besar
pada prestasi kerja organisasi, diantaranya, yaitu:
1. Budaya perusahaan dapat
mempunyai dampak signifikan pada prestasi kerja ekonomi perusahaan dalam jangka
panjang.
2. Budaya perusahaan
bahkan mungkin merupakan faktor yang lebih penting dalam menentukan sukses atau
gagalnya perusahaan dalam masa mendatang.
3. Budaya perusahaan yang
menghambat prestasi keuangan yang kokoh dalam jangka panjang sering terjadi dan
budaya tersebut berkembang dengan mudah.
4. Walaupun sulit untuk
diubah, budaya perusahaan dapat dibuat untuk lebih meningkatkan prestasi.”
2.1.3 Indikator Pengukuran Budaya Organisasi
Menurut Robbins (1998) dalam Rahma et al. (2013: 3), bahwa:
“Karakteristik
budaya organisasi meliputi cara-cara bertindak, nilai-nilai yang dijadikan
landasan untuk bertindak, upaya pimpinan memperlakukan bawahan sampai pada
upaya pemecahan masalah yang terjadi di lingkungan organisasi, bagaimana sebuah
organisasi dalam mencapai sasaran tujuan organisasinya sangat tergantung pada
dinamika organisasinya”.
Dari pendapat diatas, maka indikator-indikator untuk mengukur Budaya
Organisasi dalam penelitian ini, yaitu (1) kedisiplinan, (2) ketepatan, (3) keramahan, (4) ketanggapan, (5) berkoordinasi.
DAFTAR PUSTAKA
Laudon, Kenneth
C. dan Laudon, Jane P. (2012), Sistem
Informasi Manajemen, Mengelola Perusahaan Digital, Buku 1 Edisi 10.
Jakarta: Salemba Empat.
Lunenburg, Fred
C. ( 2011), “Organizational Culture-Performance Relationships: Views of Excellence and
Theory Z”. National Forum Of Educational Administration And
Supervision Journal, VoL. 29, Number 4: 1-9.
Rahma, S., Suhandana, G.A., dan Suarni, Ni Kt. (2013), “Kontribusi Efektivitas Kepemimpinan, Budaya Organisasi
Dan Etos Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai Balai Diklat Keagamaan Denpasar”.
e-Journal, Vol 4: 1-12.
Rivai, Veithzal.
dan Mulyadi, Deddy. (2012), Kepemimpinan
dan Perilaku Organisasi. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Robbins, Stephen P. dan Judge, Timothy A. (2008), Perilaku Organisasi, Buku 2. Jakarta:
Salemba Empat.
Tintami, Lila.,
Pradhanawati, Ari., dan Susanto, Hari. (2012), “Pengaruh Budaya Organisasi Dan Gaya Kepemimpinan Transformasional
Terhadap Kinerja Karyawan Melalui Disiplin Kerja Pada Karyawan Harian SKT
Megawon II PT. Djarum Kudus”. e-Journal,
Vol. 2, No.1: 1-8.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar